RSD Liun Kendage Tahuna adalah Rumah Sakit Milik Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Rumah Sakit Liunkendage mulai dibangun tanggal 10 Januari 1933. Aktivitas Medis di Pulau “Sangi” didukung oleh sebuah Lembaga yang dinamakan SIMAVI, sebuah Lembaga yang bergerak dibidang Kesetaraan Gender di Negeri Belanda. Moto Kesehatan yang digaungkan oleh komite Sangi dan Talaud Bersama Pekerja Kesehatan Missionaris maupun oleh Pihak Zending pada Tahun 1920-an Yaitu : “Yang Patah akan ku Balut dan yang sakit akan kukuatkan” “Beritakanlah Injil, Sembuhkanlah yang Sakit”.
Perjalanan Rumah Sakit Daerah Liun Kendage Tahuna tidak terhenti, Rumah Sakit ini terus... Selengkapnya
MEWUJUDKAN RSD LIUN KENDAGE TAHUNA SEBAGAI “SMART HOSPITAL DAN GREEN HOSPITAL YANG PROFESIONAL, BERKUALITAS, AMAN DAN NYAMAN”.
- MELAKUKAN TRANSFORMASI DIGITAL SECARA BERTAHAP PADA SEMUA UNIT LAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
- MERUMUSKAN REGULASI TERKAIT PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM SEMUA ASPEK PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
- MENGEMBANGKAN TATA KELOLA RUMAH SAKIT DAN TATA KELOLA KLINIS YANG EFISIEN DAN EFEKTIF BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI
- MENINGKATKAN KAPABILITAS SUMBER DAYA MANUSIA RUMAH SAKIT TERUTAMA KETERAMPILAN DALAM PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DIBIDANG PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN
- MENGELOLA LINGKUNGAN RUMAH SAKIT YANG AMAN DAN NYAMAN BAIK BAGI PASIEN, PENGUNJUNG DAN KARYAWAN RUMAH SAKIT
- MELAKUKAN PROSES PERBAIKAN DAN PENINGKATAN MUTU LAYANAN KESEHATAN SECARA BERKESINAMBUNGAN
RSD Liun Kendage Tahuna adalah Rumah Sakit Milik Pemerintah Daerah Kabupaten
Kepulauan Sangihe. Rumah Sakit Liunkendage mulai dibangun tanggal 10 Januari 1933. Aktivitas
Medis di Pulau “Sangi” didukung oleh sebuah Lembaga yang dinamakan SIMAVI, sebuah Lembaga
yang bergerak dibidang Kesetaraan Gender di Negeri Belanda.
Moto Kesehatan yang digaungkan oleh komite Sangi dan Talaud Bersama Pekerja Kesehatan
Missionaris maupun oleh Pihak Zending pada Tahun 1920-an Yaitu :
“Yang Patah akan ku Balut dan yang sakit akan kukuatkan”
“Beritakanlah Injil, Sembuhkanlah yang Sakit”
Perjalanan Rumah Sakit Daerah Liun Kendage Tahuna tidak terhenti, Rumah Sakit ini terus
mengadakan pengembangan sehingga atas berkat Tuhan Yang Maha Kuasa serta dengan kerja sama
instansi terkait dan support dari seluruh pegawai Sehingga memperoleh perizinan
Penyelenggaraan Rumah Sakit Tipe C dengan no: 503/001-SIORS/II/2019.
Rumah Sakit Daerah Liun Kendage Tahuna memiliki tempat tidur untuk pelayanan Rawat Inap
sebanyak 161 tempat tidur.
Sebagai wujud peningkatan mutu pelayanan RSD Liun Kendage berkomitmen dalam memberikan
pelayanan yang prima baik medis dan non medis, Pengelolaan Keuangan Layanan Umum Daerah
(PPK-BLUD) berdasarkan Keputusan Bupati Kepulauan Sangihe Nomor: 28 tanggal 20 November 2015
tentang Pola tata kelola Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Daerah Liun Kendage
Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Kerja keras dari pimpinan dan personil Rumah Sakit Daerah Liun Kendage Tahuna tidak kendor
melainkan semakin berkobar sehingga pada tanggal 20 Maret 2023 Rumah Sakit Daerah Liun
Kendage Tahuna menjadi salah satu Rumah Sakit yang terakreditasi Paripurna dengan no:
KARS-SERT/1047/III/2023 dibawah pimpinan dr. Aprikonus D. Loris, Sp.PD.
Sejak berdirinya komite Sangi tahun 1887 sampai awal tahun 1900, banyak
pekerja injil yang mati akibat sakit tanpa ada tindakan perawatan Secara medis. Beberapa
orang diantaranya yaitu :
- J. Tuiten, meninggal pada tanggal 16 November 1914
- E. Ruysch van Dugteren, meninggal pada tanggal 3 Januari 1915
- G. ten Broek meninggal pada tanggal 3 Desember 18.
Penyebab kematian mereka, sebagian besar karena wabah penyakit yang ada pada saat itu
seperti : Malaria, Colera dan Cacar. Penyebab lain yaitu buruknya Sanitasi. Angka kematian
orang dewasa sangat tinggi demikian juga dengan bayi, ribuan bayi yang masih menyusui
meninggal.
Pada bulan Juli 1919, Tuan Steller (sesuai catatan sejarah tidak dicantumkan namanya, tetapi
kemungkinan besar yang dimaksud adalah salah satu anak dari pendeta Erns Tragoth Steller
bernama K.G.F. Steller) membawa dua dari tiga anak-anaknya ke pulau Jawa, untuk mencari
bantuan medis. Setelah tiga bulan kemudian, dia kembali dengan anak bungsunya, anak tersebut
meninggal karena sakit dalam pelayaran diantara Makassar dan Manado. Mr.K.G.F. Steller
ditahbiskan sebagai pelayan gereja menggantikan ayahnya pada tanggal 1 February 1899 dan
masih bertugas sampai pertengahan tahun 1930.
Berdasarkan keadaan itu, pihak komite
Sangihe mengupayakan setiap utusan injil yang diutus ke pulau Sangihe harus diperlengkapi
dengan “kursus kesehatan”. Mereka kemudian bertugas rangkap sebagai “pekabar injil” dan
“perawat'. Sejak saat itu mulai berkembanglah pengobatan berdasarkan cara Eropa . Disetiap
resort penginjilan terdapat satu tempat perawatan kesehatan yang didirikan sebagai “rumah
sakit pembantu” dan bisa “rawat inap”.
Dari keberhasilan itu maka pemerintah Belanda memberikan subsidi obat secara geratis kepada
orang-orang miskin dan perawat pribumi.
Semakin berkembangnya kegiatan medis, maka diperlukan dokter yang akan melayani
hal-hal yang lebih besar dalam sebuah rumah sakit pusat untuk pelayanan “penderita gawat” dan
penderita yang harus “dibedah”. Selain itu, dokter diharapkan berkunjung ke pulau-pulau luar
untuk “menilik” tindakan medis di poliklinik disetiap resort penginjilan, melakukan perawatan
bagi pasien yang tidak bisa “rawat inap”.
Sangat disesalkan, permintaan tenaga dokter oleh Komite Sangihe belum juga dikabulkan oleh
pemerintah Belanda. Sampai kemudian datanglah dokter perempuan bernama Mejuffrouw, A. E. Ruysch
van Dugteren (namanya tercatat dalam : Almanak Amsterdamsche Vrouwen Studenten Vereeniging
(A.V.S.V.)). , (pembekalan Mejuffrow A.E. Ruysch van Dugteren dilaksanakan Rabu 14 Februari
Tahun terbit tulisan 1934-1935). Mejuffrouw, A. E. Ruysch van Dugteren adalah saudara kandung
dari E. Ruysch van Dugteren (pekerja Zending yang meninggal di Sangihe 3 Januari 1915) EF.
Ruysch van Dugteren ditahbiskan di Belanda pada tahun 1913 (sumber : Sangir Bode Zendingsblad
voor Noord en Zuid Beveland edisi 4-1 913) sebagai Zending di Tamako (Sumber : Hedendaagsche
zending in onze Oost 1914).
Tahun 1927 pemerintah Belanda telah mendirikan bangunan Rumah Sakit utama di
Tahuna dan bangunan Rumah Sakit pembantu di Manganitu. Ditahun itu juga, Mr. Vallekoop
menempatkan dua orang perawat Eropa di Rumah Sakit pembantu di Manganitu. Tahun 1928,
pemerintah Belanda mengangkat seorang dokter pribumi yang bertugas di Rumah Sakit pemerintah
Belanda di Tahuna bernama dr. Nikiulu (sumber : profil RS.Liunkendage).
Selain bekerja di Rumah Sakit, dokter pribumi tersebut melakukan “perawatan keliling” pulau
Sangihe dengan perahu bernama “perahu Liunkendage” yang berpangkalan di “teluk Talengen”.
(Sumber wawancara Alffian ~~ Walukow, dengan budayawan Dominikus Madonsa bersama isteri
Alise Samalam tahun 2000). Dokter yang dimaksud adalah seorang dokter Islam (tertulis dokter
Mohammaden). Sumber : de Zending op de Sangi- en Talaud-Eilanden door D. Brilman D. d. W. te
Ennemawira. Uitgegeven van Wege den Zendings Studie-Raad door de Drukkerij van de Stichting
Hoenderloo 1938.
PERAHU LIUNKENDAGE Liunkendage artinya Kasih Yang Tak Berkesudahan. Perahu ini
digunakan oleh pendeta Scherrer pada tahun 1921, dan digunakan juga sebagai perahu rumah
sakit terapung yang berpangkalan di teluk Talengen.
Pada tahun 1930 dikirim suster H.J. Huvers di Rumah Sakit bpembantu di Manganitu sebagai
suster Missionaris. Huvers secara resmi mulai menjalankan tugas sejak bulan April 1931.
Dimasa itu pemerintah kesulitan memperoleh dokter Belanda.
Tahun 1931 pemerintah
mengakhiri kontrak seorang dokter pribumi asal Minahasa di Talaud (dr. Thomas atau dr.
Turangan / dua versi). Sejak saat itu, tanggung jawab medis di semua pulau Sangihe dan
Talaud dilimpahkan kepada dokter pemerintah (dokter pribumi) di Tahuna.
Dengan diakhirinya kontrak dokter pemerintah, maka semua bentuk keuangan yang sebelumnya
diberikan kepada dokter pemerintah dialihkan kepada pihak Zending (pihak penginjilan) untuk
disubsidikan kepada dokter Zending. Sejak saat itu (1931), Rumah Sakit pemerintah diambil
alih oleh pihak Zending.
Pada tahun 1931 pemerintah Belanda mengirim seorang dokter yang masih sangat
muda bernama Gyula Cseszko. Tetapi setibanya di pulau Jawa menemui masalah karena ijazahnya
bukan ijazah kedokteran Belanda.
Gyula adalah seorang dokter asal Hungary yang lahir di kota Hodmezovazarhely pada tanggal 21
April 1902. (versi Sangihe), tanggal 18 April 1902. (versi keluarga).
Karena pulau “Sangihe” sangat membutuhkan dokter maka Gubernur Jenderal memberikan
dispensasi kepada Dr Cseszko dalam bentuk t. a.v. den eisch dari ijazah dokter Belanda
(dinyatakan Pemerintah siap mengembalikan dokter asalnya dan dana yang dikeluarkan untuk
Misi untuk dibayarkan sebagai hibah untuk seorang dokter misionaris).
Dikisaran bulan Mei 1931 dr.Gyula Cseszko tiba di Tahuna. Pada masa itu, suster Huvers
memindahkan rumah sakit pembantu di Manganitu ke Tahuna dan membantu tugas-tugas dr. Gyula.
Ditahun yang sama kedatangan dr. Gyula, suster Huvers dipindahkan ke Sibolangit (Deli)
Sumatera Utara dan meninggal disana pada tahun 1934.
Saat baru mulai bertugas, dr. Gyula menemukan kasus-kasus penyakit utama seperti : Malaria,
Frambusia, Penyakit Cacing Tambang, TBC dan pengobatan luka-luka. Selain itu terdapat juga
kasus-kasus penyakit internal. Dimasa itu dr. Gyula sudah mulai melakukan pembedahan.
Masyarakat sangat gembira saat dr. Gyula dan Isterinya tiba di Tahuna. Berdasarkan informasi
dari anak dan cucu dokter Cseszko ( informasi dari Anak tertua EMMA di Canada, cucu berama
Emma di Australia, cucu bernama Juli di Canada). RS. Liunkendage mulai dibangun tanggal 10
Januari 1933.
Aktifitas medis di pulau “Sangi” seterusnya didukung oleh sebuah lembaga yang dinamakan
SIMAVI, sebuah lembaga yang begerak dibidang kesetaraan Gender dinegeri Belanda.
Moto kesehatan yang digaungkan oleh komite Sangi dan Talaud bersama pekerja kesehatan
Missionaris maupun oleh pihak Zending pada tahun 1920-an yaitu :
“ Yang Patah akan ku Balut dan yang sakit akan kukuatkan”
“Beritakanlah Injil, Sembuhkanlah yang Sakit”
Copyright © RSDLK Tahuna.